Menyusui Bayi Kembar

Ahhhh… rejekinya dobel dikasi Sang Maha Kuasa… Alhamdulillah,

nah trus timbul pertanyaan, bagaimana menyusuinya ya? Tenang.. teorinya, satu kepala bayi adalah cukup dengan menyusui 1 payudara, jadi kalau kita sudah diberikan payudara sepasang, berarti ASI pasti cukup. Selama manajemen ASI benar, ASI akan cukup untuk bayi kembar kita.

Usahakan menyusui bersamaan perlekatan benar, jadi bila bayi 1 bangun untuk menyusui, bangunkan bayi 2, lalu menyusui bersamaan, setelah selesai, ibu dapat istirahat. Akan berbeda bila bayi 1 menangis, lalu kita hanya menyusui 1 bayi, setelah itu menyusui bayi 2, lalu selesai, ibu baru beristirahat sebentar, bayi 1 sudah mulai waktunya bangun dan menyusui kembali. Ibu tidak akan mendapatkan istirahat yang cukup dan optimal dan dapat mempengaruhi produksi ASI.

Ini adalah berbagai posisi yang dapat dilakukan saat menyusui bayi kembar.

Menyusui posisi dobel football

Menyusui posisi dobel football

Posisi menyusui bayi kembar lainnya :

Posisi menyusui bayi kembar

Posisi menyusui bayi kembar

Menyusui Bayi Kembar Posisi 3

Menyusui Bayi Kembar Posisi 3

Awal, perawatan metode kanguru tetap dapat dilakukan dengan bayi bergantian ya.. karena biasanya bayi kembar lahir sedikit kurang bulan atau sedikit kurang berat badan (<2500gr) maka melakukan skin to skin dengan metode ini besar manfaatnya.

Lalu menyusui semau bayi seperti biasa

Untuk Ibu bekerja, juga tetap bisa dilakukan manejemen ASIP , namun kali ini, PD bantu dikosongkan dengan perah manual atau pompa setelah ke2 bayi puas menyusu. ASI dapat dikumpulkan sedikit demi sedikit.

Ingat ya, produksi ASI berdasarkan demand and suplly, jadi makin banyak demand, produksipun makin meningkat, jadi tidak perlu kuatir ASI tidak cukup ya.

Semoga bermanfaat

Bayiku di Photo Therapy

Bila kadar kuning tertentu pada bayi membutuhkan bantuan Phototerapy atau terapi sinar untuk menurunkan kadar bilirubinnya, tidak usah sedih. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu agar bilirubin cepat turun, dan bayi cepat kembali pulang dan bersama keluarga kembali.

Usahakan walau bayi dirawat, tetap mendapatkan ASI. Karena ASI mempunyai zat pencahar khusus yang dapat membantu mengikat bilirubin di tubuh bayi, lalu dibuang melalui BAB dan BAK. Jadi semakin banyak dapat ASI, kadar bilirubin bayi akan lebih cepat turun.

Caranya gimana?

1. Usahakan mama stay di RS bila memungkinkan, sering disebut dengan nama hotel service. Jadi mama hanya bayar kamar dan makan saja ya, tidak diperlakukan seperti pasien pada umumnya. Tujuannya, agar setiap bayi membutuhkan menyusu, mama dapat menyusui langsung bayinya. ASI itu ada zat antibodi hhidup dan mati, dengan bayi menyusu langsung, bayi akan mendapatkan antibodi hidup ini lebih banyak. Lagipula, karena IWL/Insensible Water Loss (cairan yang keluar dari tubuh secara normal melalui kulit seperti keringat dan nafas/bicara) pada bayi dengan foto therapy lebih banyak dibandingkan tidak. Nah bila di pompa sepertinya dapatnya tidak banyak, ingat prinsip hasil pompa tidak mencerminkan hasil produksi ASI. Karena bila menyusui langsung perlekatan benar, ASI seperti sungai mengalir yang tidak akan ada habisnya.. jadi, bila menyusu langsung, bayi berkemungkinan mendapatkan ASI yang dibutuhkan dan lebih banyak dari hasil pompa.

Bagaimana dengan keefektifannya? well karena menyusu latchOn benar 5mntan aja sudah selesai, jeda 5 menit unt menyusu perlekatan benar, dengan usahakan lampu tetap mengarah ke bayi dan ibu (ibu duduk depan lampu foto bayi) lalu bayi dikembalikan lagi kedalam box dengan lampu, tidaklah mengurangi keefktifan terapi sinar.

2. Bila tidak memungkinkan ibu rawat bersama, pilihan berikutnya adalah dengan ASIP, namun pemberian tetap tidak dengan metode dot. Pilihannya adalah dengan menggunakan metode cangkir kembali atau cup feeding. Ini dari bayi usia 3 hari sudah bisa ya.. dan selama caranya benar, cukup aman. Sehingga, bila bayi pulang nanti dan bergabung bersama ibu, bayi tidak akan kesulitan menyusu langsung kembali.

Semoga Membantu

Decision Making Process of Exclusive Breastfeeding – Breastfeeding Through Campaign, Using The Social Media Twitter On Lactation Clinic Patients of Eka Hospital BSD

ABSTRACT

Breast milk is the best and the only intake for baby. Unfortunately, due to lack of information about it makes public awareness to breastfeed the baby is minimal. To socialize the benefit of breastfeeding, various proponents of lactation supports are using social media to reach wider public, with fast response and in expensive way. The lactation activator gets well received from the government, with the passage of Peraturan Pemerintah in March 2012 regarding provision on exclusive breastfeeding.

With this presence of social media which is a new media, becoming an alternative way to promote and do the brestfeeding campaign, as we known new media it is also a development of communication. With this reasons, researchers try to explore the process of people decision with the use of social media presently with the internet development in pursuit of fulfill their needs about lactation and breastfeeding information with social media Twitter.

In this study, researchers tried to review it using the theory of social marketing, public relations, word of mouth, and social campaigns. The method used is qualitative and descriptive research approach with constructivist paradigm, and the informants selected were patients of Lactttion Clinic at Eka Hospital BSD, which also actively use social media at least 3 years preceding and following the development of the breastfeeding problems.

From this research found that social media tends to have an impact on the AIDA (Attention, Interest, Desire, Action). The presence of social media Twitter has changed the patterns of information in the community. A characteristic of social media which is rapid, participatory, and open, has influenced the behavior of today’s society

Keywords: social media, new media, social campaign, AIDA, breastfeeding, lactation

Positive Perception and Early Initiation of Breastfeeding Leads to Success of Exclusive Breastfeeding

Positive Perception and Early Initiation of Breastfeeding Leads to Success of Exclusive Breastfeeding

Background

Breastfeeding rates in Indonesia are one of the lowest in the developed world. Even in 2013 shows some progress from the study report. The early initiation of breastfeeding in Indonesia has increase into 34,5% from only 29,3% in 2010 based on Indonesian Health Research in 2013. Women’s perception of positive perception during breastfeeding may influence maternal satisfaction and confidence but it remains understudied. We asked women about the early initiation of breastfeeding and their positive perceptions during breastfeeding and measured the effect on maternal confidence, commitment, and satisfaction to breastfeeding and the helps of healthcare provider on early initiation of breastfeeding. There have been lack of studies of breastfeeding in Indonesia, which have adopted a quantitative approach, and this study hopefully could be as an input factor in the decision to breastfeed. Whilst these studies have an important role to play, this paper draws on a study that adopts a quantitative methodology to descript an early initiation and positive perception leads to support the successful of breastfeeding.

Method

A quantitative study of 46 breastfeeding mothers was undertaken and completed in 2014. Participants were recruited to the study via social media that follow the twitter account of @dokterlaktasi, the follower of blogpost of drmaharanibayu.wordpress.com and Facebook friends of Maharani Bayu through email. Their ages ranged from 28 to 33 years. Participants were answered some closed questions.

The data indicate that there are several factors affecting breastfeeding initiation. First, infant feeding decisions seem to be made prior to, or irrespective of, contact with health professionals. Secondly, the data suggest that health promotion campaigns in Indonesia have been influential in their ability to educate women about the benefits of breastfeeding. The perceptive perception on breastfeeding, gives a good result on mothers who succeed on giving an exclusive breastfeeding.

Result

Full breastfeeding was reported by 84%, mixed feeding was reported 16% with no formula feeding only. With this number, 100% know about early initiation of breastfeeding even only 58% did it, and only 15% success in do early initiation of breastfeeding for minimal 1 hour after the baby’s birth. Woman who had cesarean delivery were more likely not to practice the early initiation of breastfeeding compare to those who had vaginal delivery, but they practicing the exclusive breastfeeding also till more than a year. Women who get successful in one hour full early initiation of breastfeeding have a confidence, a comfortable feeling for her and the baby for more than two-third percent. But the group women who did not experienced the early initiation of breastfeeding keeps practicing the exclusive breastfeeding because they have a good knowledge (81%) has a good historical of lactating education before they labor (11% from the gynecologist, 8% from the pediatrician, 30% from the lactation counselor, and 54% from the closed relatives that support the mother). Their positive perception on breastfeeding giving an positive impact on breastfeeding with or without early initiation on breastfeeding.

Conclusions

Mothers feel more capable and confident about breastfeeding when they get enough education and information about breastfeeding especially with the supportive by way of verbal encouragement and active involvement in breastfeeding activities especially from their closed relatives that giving a good support and the healthcare provider. Mothers with good knowledge in it motivated only by “what’s best for baby,” and provided positive feedback about breastfeeding, felt more confident in their ability to breastfeed. It is important that health care professionals appreciate the influence that positive perception and active support has upon the development of maternal confidence in breastfeeding, a known predictor for maintaining breastfeeding. Common support strategies could be communicated to both the partner and mother in the prenatal and postpartum periods. Health professionals can provide information, helps on early initiation on breastfeeding, and help the mothers in the healthcare provider while they still in post partum periods. Further research should address those functions that are perceived as most supportive by mothers and the baby friendly hospital is willing to perform.

References

 World Health Organization, UNICEF: Baby-Friendly Hospital Initiative: Revised, Updated and Expanded for Integrated Care. Geneva: Health Organization and UNICEF; 2009.

World Health Organization, UNICEF: Global strategy for infant and young child feeding. Geneva: World Health Organization and UNICEF; 2003.

Cynthia A Mannion, Amy J Hobbs, Sheila W McDonald and Suzanne C Tough : Maternal perceptions of partner support during breastfeeding, International Breastfeeding Journal 2013, 8:4

Mohammad Khassawneh, Yousef Khader, Zouhair Amarin and Ahmad Alkafaje: Knowledge, attitude and practice of breastfeeding in the north of Jordan: a cross-sectional study, International Breastfeeding Journal 2006, 1:17

BB Bayiku Nambahnya Minim

Pertanyaan ini sering sekali muncul di benak orang tua, terutama bila anaknya tidak terlihat montok seperti anak tetangga mungkin dan bayi hanya mendapatkan ASI saja/menyusui ekslusif.

Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah ASI ibu mencukupi? Atau apakah sebetulnya baik untuk anak.

Ok, dicoba bahas satu-persatu.

Kecukupan ASI sebetulnya sangat mudah dilihat. (1)Bayi usia minimal 6hari, cukup BAK minimal 6x/24jam jernih, disertai (2) kenaikan BB bayi cukup. Dalam artian, bayi<6bulan ada kenaikan BB minimal 20gr/hari atau 600gr/bulan.

Bila hal ini belum terjadi terutama di awal kelahiran bayi, cukup diingat, target bayi ASI BB kembali dari berat lahir adalah saat bayi 2 minggu setelah terjadi penurunan BB yang normal terjadi diawal kelahiran sebanyak 7-10% dari berat lahir yang dikarenakan pemakaian lemak coklat bayi untuk metabolismenya di hari awal kelahirannya.

Bila belum tercapai juga, coba evaluasi menyusunya. Apakah sudah mendapatkan perlekatan/latchOn yang baik? Hal ini dapat dilihat dari : (1)Apakah masih ada keluhan saat menyusui seperti puting lecet, (2)puting ibu berbentuk runcing tidak bulat penuh sehabis menyusui, (3)adanya anak yang menyusu rewel dan sulit sekali mendapatkan perlekatan, (4)anak menyusu lama bisa sampai >30menit namun anak masih rewel, dan lain-lain yang mengindikasikan bayi gagal mendapat perlekatan yang baik, maka bayipun gagal memerah PD dengan optimal, sehingga gagal mendapatkan asupan ASI dengan baik.

BIla masih menemui masalah dalam menyusui terutama dengan perlekatan menyusuinya, saran adalah temui konselor untuk evaluasi ini.

Oh iya, kembali ke pernyataan awal akan anaknya kurang montok. (1)Hmm, tumbuh kembang fisik anak juga mengikuti gen orang tua ya, jadi tidak bisa disamakan. (2)bila anak tetangga mengkonsumsi susu non ASI (susu sapi), tidak bisa disamakan kembali. Karena anak manusia untuk mencapai 2x beratbadannya dibutuhkan waktu minimal 6bulan, namun untuk anak sapi hanya membutuhkan waktu 6minggu. Inilah kenapa, anak manusia yang mengkonsumsi protein susu sapi, akan mempunyai porsi tubuh yang cenderung besar. Namun cukup diingat, BB ideal lah yang dikejar, karena gemuk bukan berarti sehat ya. Walau tidak menutup kemungkinan anak ASI dapat tumbuh besar dan montok, namun untuk kasus ini, kembali tidak perlu dikuatirkan, karena selama ASI saja, tidak masalah, dan seiring usia bayi dengan aktifitasnya, tubuh bayi akan tidak menjadi terlalu besar.

Bagaimana dengan pertanyaan yang mengikutinya? Sebetulnya ASI ibu cukup tidak? Atau berkualitas atau tidak?

Bila perlekatan baik, anak mendapat asupan dengan baik, perangsangan saat bayi menyusu kepada otak ibu untuk memproduksi ASI dan mengalirkan ASI baik, maka ASI pasti cukup. Karena teorinya, 1 kepala bayi cukup hanya dari 1 PD saja. Jadi kita sebagai manusia yang sudah diberikan anugrah 2 PD, adalah lebih dari cukup untuk bayi kita yang lahir kebanyakan hanya 1. Inilah kenapa ibu dengan bayi kembar pun dapat menyusui dengan ekslusif bayinya, tidak kekurangan. Karena, selama bayi menyusu langsung dengan perlekatan baik (bayi tidak kenal dot/kempeng yang beresiko membuat jadi bingungputing), rangsangan produksi dan pengaliran ASI baik, ASI seperti sungai mengalir tidak akan habis. Sambil di habiskan, sambil diproduksi dan dialirkan terus.

Untuk kualitas, selama ibu bisa mendapatkan asupan sehari 3x gizi seimbang, kualitas ASI tidak akan terkalahkan. Karena, ibu status kurang gizi saja hanya turun kuantitas bukan kualitas, dan ibu status gizi buruk, hanya turun kualitas lemak, tidak protein lainnya.

Untuk pertumbuhan anak, coba dibantu di plot ke kurva pertumbuhan WHO. Pengukuran minimal 3x sudah bisa merepresentasikan bagaimana kondisi pertumbuhan anak. Dan bila masih dalam batas normal, tidak ada yang perlu dikuatirkan.

Semoga Bermanfaat

Posisi Cross Cradle Untuk LatchOn/Perlekatan Menyusui Ok

Saat menyusui diawal kelahiran usia bayi, ada cara yang harus dilakukan untuk mendapatkan latchOn optimal. Sehingga bila perlekatan benar didapatkan, bayi dapat memerah ASI dengan optimal, dan ibupun menyusui dengan nyaman karena terhindar dari lecet/luka pada puting.

Untuk menyusu awal, dan mendapatkan perlekatan yang baik, dari berbagai macam posisi yang ada saat menyusui, posisi cross cradle adalah yang direkomendasikan. Hal ini sangat efektif untuk memasukkan areola seoptimal mungkin kedalam mulut bayi, karena prinsip menyusu yang merupakan “lidah perah areola” bukan hanya sekadar menghisap putting.

Sebagai bayangan awal, ini merupakan posisi cradle

cradle hold

cradle hold

Nah, posisi cross cradle artinya, bayi menyusu di PD kanan, namun tangan ibu yang menyangga adalah dengan tangan kiri, atau sebaliknya.

Langkah ini dilakukan, agar ibu dapat lebih mengkontrol dan membantu untuk memasukkan areola seoptimal mungkin kedalam mulut bayi.

cross cradle tampak depan

cross cradle tampak depan

Langkah berikutnya,

1. Jari telunjuk dan ibu jari membentuk huruf C untuk mengecilkan arela menjadi sejajar dengan mulut bayi

2. Puting di oleskan ke hidung dan philtrum (cekungan diatas mulut bayi) agar bayi membuka mulutnya lebar

3. bersamaan, masukkan areola kedalam mulut bayi dan dorong bayi maju untuk mendapatkan areola

mengecilkan areola dengan cross cradle

mengecilkan areola dengan cross cradle

Setelah mendapatkan perlekatan yang baik, baru letakkan tangan kanan ibu dibawah badan bayi sebagai penyangga, dan kembali pada posisi cradle.

Bila perlekatan lepas, lakukan kembali langkah awal menggunakan posisi cross cradle

cradle hold dari sisi samping

cradle hold tampak samping

Semoga membantu and selamat menyusui

 

 

Memerah Payudara Dengan Tangan

Cara mempertahankan atau meningkatkan produksi ASI adalah dengan 2 cara yang paling mendasar :

  1. Perangsangan benar (menyusu perlekatan/latchOn) benar
  2. Pengosongan payudara rutin dengan anak menyusu langsung maupun dengan perah manual/pompa payudara.

Dalam tulisan ini, saya akan coba berbagi info akan pengosongan payudara dengan cara perah tangan manual.  Dimana berbagai keuntungan dan kemudahan didapatkan ibu. Seperti :

–          Cukup membawa wadah bersih saja

–          Tidak repot harus membawa berbagai peralatan pompa

–          Tidak repot mencari tempat membersihkan/mensterilkan pompa setelah digunakan

–          Tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli alat pompa

Apakah sulit untuk dilakukan? Tidak jawabannya,  bila mengerti bagaimana tehniknya yang benar. Kombinasi pemijatan dan perangsangan yang benar yang merupakan tehnik inti dari pengeluaran ASI secara manual.

Pijat sederhana dan kompres hangat payudara sebelumnya dapat dilakukan untuk membantu kenyamanan ibu juga untuk melancarkan pengeluaran ASI. Pijat sederhana dilakukan dengan gerakah sirkular/memutar pada payudara diluar daerah areola dan puting, dari arah pangkal payudara sampai batas kulit-areola.

Massage gerakan sirkular/memutar, dari pangkal PD ke batas areola

Massage gerakan sirkular/memutar, dari pangkal PD ke batas areola

Hal ini untuk menghancurkan kemungkinan adanya sumbat ASI pada saluran payudara.  Lalu kompres hangat untuk membuka jaringan dan saluran payudara.

Selanjutnya kita lakukan pemerahan payudara menggunakan tangan secara manual yang dinamakan tehnik marmet. Caranya :

Letakkan 2 jari (telunjuk dan ibu jari) diluar areola dekat batas antara kulit dan areola seperti membentuk huruf C dengan posisi tegak lurus.  (contoh dibawah adalah membentuk jam 6-12)

Posisi jari huruf C benar

Posisi jari huruf C benar

Posisi tangan tidak dianjurkan yang memutar seperti ini, dalam artian tidak berjarak 180 derajat/tegak lurus diantaranya

posisi jari C salah

posisi jari C salah

Lalu bawa dan tekan jari ke bagian dada seperti meregangkan jari (untuk ibu dengan payudara besar bagian bawah payudara dapat ditopang dengan telapak tangan yang lain)

regangkandan perlahan dorong kedua jari kearah depan, seperti memijat/mendorong ASI yang terkumpul dikelenjar susu yang terletak dibawah ke2 jari tersebut.

pushLakukan secara teratur, dan pastikan keseluruh bagian kelenjar payudara terperah. Bila habis di Jam 6-12, berpindah ke jam 2-8, 4-10.

Tidak disarankan memijat areola saja, tanpa gerakan meregangkan dan mendorong, begitu juga dengan gerakan memeras payudara dari pangkalnya. Bila cara memerah benar, ibu tidak akan merasa sakit.

Ini adalah video nya

http://youtu.be/R2wpIyNm8Os

Pemilihan pengosongan payudara menggunakan perah manual dengan tangan maupun dengan pompa payudara, adalah murni kenyamanan ibu. Hanya disarankan tidak menggunakan pompa payudara seperti ini yang tidak direkomendasikan, karena tekanan pompa tidak bisa di ukur dan dapat menyebabkan rusaknya jaringan payudara, dan ASI dapat masuk kedalam bola karet melalui lubang yang terdapat pada bola karet, namun tidak dapat disterilkan sehingga beresiko menjadi sarang kuman.

pompa asi unrecommend 2Semoga Bermanfaat